Cerita pribadi

Rindu

Ada kenangan yang kian terkikis, karena tidak pernah dirawat. Ada rasa yang kian membeku, karena tidak pernah disentuh. Tapi hanya “kian”, belum habis. Belum selesai. Dan belum mati. Masih ada kenangan yang terselip, masih ada pula rasa yang ditata rapi. Malam ini, kenangan itu muncul di permukaan. Rasa yang sudah ditata di paling ujung, mengetuk untuk dihangatkan kembali. Mungkin aku rindu, rindu kamu atau bahkan hanya sekedar rindu cerita masa lalu.

Dimensi pola pikir yang kian berbeda, ku rasa cukup untuk memberi tembok tebal yang kian memberi jarak. Sesekali kita sempat berbalas chat. Tapi tak jarang berujung saling hilang karena pertengkaran, lagi-lagi paradigma. Sejenak saja, aku ingin duduk dan menertawakan lelucon kawakan kita tanpa melibatkan banyak pikiran. Sebentar saja, aku ingin kembali merasakan hangat yang sudah lama tidak pernah mendekat dan mendekap.

Aku rindu, entah rindu kamu atau bahkan hanya sekedar rindu cerita masa lalu.

Aku rindu, tapi tak sopan berharap temu.

Diselimuti suhu 12 derajat celcius, aku teramat rindu, kamu.

Advertisements
Cerita pribadi

Mimpi

Percaya atau tidak, aku masih mengingat mimpi-mimpi yang kamu tulis di secarik kertas yang bahkan mungkin kamu sudah lupa untuk mewujudkan.

Dulu, rasamu bagai hujan. Deras.

Tapi aku lupa, bahwa sederas-derasnya hujan ia pasti akan mereda.

Kini kau telah bebas. Tidak ada lagi rantai tak tau diri yang berusaha mengikat. Aku lepaskan kamu. Berjalanlah semaumu. Temui siapa saja yang kamu inginkan. Perihal ku telah ikhlas atau tidak, itu urusanku. Urusanmu adalah lakukan apa saja yang membuatmu jauh lebih bahagia, agar aku tidak kecewa telah mengambil keputusan untuk mengakhiri.

Raihlah segala mimpimu, meski aku bukan salah satunya. Karena aku selalu percaya pada mimpi-mimpimu seperti hal nya aku percaya pada seribu buku yang telah kita baca bersama.

Tak usah ragu untuk menepi jika kamu lelah. Meski kini kita hanyalah sebuah kata yang dipisahkan spasi yang tak saling berinteraksi. Namun aku tetap teman, yang nantinya bisa kapanpun kamu ketuk pintu rumahnya untuk kamu jadikan sandaran. Berceritalah tentang perjalanan hidup yang tak lagi sama seperti bangku sekolah, telingaku akan terus mendengar.

Tak usah ragu untuk menanyakan kabar. Meski kata “kita” tidak bisa lagi diselamatkan seperti kenangan manis yang kian memudar. Aku akan selalu berusaha menjawab kabarku baik-baik saja. Agar hatimu kian tenang tak meradang.

Jika hari ini kamu tanyakan tentang rindu, tidak ada hal lain yang mampu ku perbuat selain mengangguk. Kepingan rinduku telah tersangkut diantara jarak. Tak mampu sampai ditempatmu kini berdiri tegak.

Jika ku paksakan mendekat, pertengkaran kita akan memekat. Maka izinkan aku berteduh sejenak. Agar nantinya jalan kita tak beriringan. Jika dulu kamu memintaku berjalan disebelahmu, anggap saja itu hanya lelucon yang saling kita lemparkan.

Malam ini, mari kita rapikan perasaan. Yang dulunya pernah kita banggakan namun berakhir berantakan. Malam ini juga, aku menulis untuk melupakan, namun tetap mengabadikan kejadian yang nantinya ingin sesekali ku kenang.

Begitu banyak hal yang dulunya kita tulis disecarik kertas yang kini menyatu dengan mimpi-mimpi kita yang tak akan pernah selesai tapi sudah lebih dulu kita tutup rapat. Aku tak mau menyebutkan satu- persatu. Tak mau mengajakmu lebih jauh mendalami sejarah. Cukup biarkan saja mimpi-mimpi kita ada di angan ku. Biarkan saja, agar orang lain tidak pernah tau.

Jika kini tulisanku mengingatkan mu pada hal manis namun juga dramatis. Ciptakanlah sedikit senyum disudut bibirmu. Tak apa. Tidak ada awal yang tak pernah berakhir. Semoga lain kali aku masih diberi kesempatan untuk menulis betapa mengenalmu adalah keberuntungan yang mengiris.

Hingga kisah ini aku publish di blog pribadi, aku masih terlalu melankolis untuk tidak menangis.

Cerita pribadi

Berdamailah, segera…

Mungkin untuk sebagian besar orang, ditinggalkan adalah sesuatu yang sulit untuk direlakan. Akupun begitu. Aku ada dalam sekelompok itu. Dalam suatu keadaan kita dibuat sulit oleh seseorang yang dulunya pernah jadi yang tercinta dan tersayang namun tiba-tiba menjelma menjadi seseorang yang paling mengacuhkan. Berdamailah…

Kali ini, aku ingin sedikit bercerita. Tentang dia yang selalu ku tuliskan namanya di lembaran kertas warna dalam buku diary. Kita pernah melukis tawa, pernah juga tak sengaja menggores luka. Tapi semua tetap berjalan baik-baik saja, ku rasa. Hingga lembar demi lembar kosong telah terbuang, terisi dengan segala cerita yang pernah kita rasa. Aku begitu mengaguminya. Bahkan hanya dengan senyum tipisnya aku terkadang terbuai oleh rasa. Hari demi hari, bulan demi bulan. Tak ada yang perduli seberapa hebat kita pernah bertengkar, dan seberapa sering kita pernah mengunci diri. Karena pada akhirnya kita tetap kembali. Tetap menjalani hari dengan saling mengisi. Hingga aku lupa diri, bahwa dia pasti menyimpan sejuta untai kata yang hanya manis diawal hari. Tapi kala itu aku benar-benar tak perduli. Bahkan dengan banyak orang yang lalu lalang berusaha menggurui “Jangan pernah menyanyang terlalu dalam. Suatu saat dia pasti pergi” sungguh aku benar-benar tak perduli. Aku pikir, untuk apa takut akan hal yang belum pernah terjadi.

Kini, semua cerita yang dulu selalu aku genggam erat, yang dulu selalu aku peluk tiap malam menyergap. Ia telah runtuh. Pergi berlari dengan bayangmu yang seolah ingin meninggalkan bumi. Karena tidak mau lagi bersua denganku. Mereka yang dulu ku rasa menggurui, ternyata benar di akhir hari. Dan semua untaian manis yang dulu sering dia beri juga telah melebur hilang tak berarti. Kini cuma tertinggal seorang aku, yang nyatanya masih saja sering merindu akan sesosok laki-laki yang dulunya tak pernah mau undur diri. Sesosok laki-laki yang dulunya selalu tampil nomor satu untuk membuat bahagia. Lebih bahagia dari orang lain pernah rasa.

Dan kini, aku menulis dengan segenap rindu dan benci yang hanya bisa aku simpan sendiri. Meski nanti bisa saja aku bertemu kembali denganmu. Aku harap, aku tidak terlalu bodoh untuk membaginya lagi denganmu. Aku ingin berdamai. Berdamai dengan hati dan segala masa lalu kita. Tapi bukan, bukan untuk kembali satu. Bukan untuk kembali merintis mimpi kita satu persatu. Aku hanya ingin pergi tanpa harus punya benci.

Cerita pribadi

Beberapa abjad

Jika sudah tidak lagi ku pertahankan, bukan berarti kamu sudah ku lupakan. Aku hanya ingin menyimpannya sendiri. Karena percuma membagi rasa bersamamu. Yang ada, lagi-lagi aku hanya berjuang sendiri. 

Kamu adalah seorang yang selalu kutunggu kabar dan messagenya. Tapi kamu juga seorang yang sering kali lupa memberikanku itu. Bukankah hanya menyapaku lewat beberapa abjad saja sudah cukup membuatku bahagia? Aku pun sudah terlalu sering mengingatkan, mungkin kamu juga sudah bosan untuk diingatkan. 

Jika kita memang sudah tak seirama, jika kamu juga sudah terus merasa terkekang, dan jika setiap ucapanku tak pernah lagi kamu pikir mendalam. Aku hanya ingin melepas. Melepas apa yang nyatanya memang sudah waktunya dilepas. 

Aku pernah menitipkan hati, dan kamu pernah berusaha untuk tidak menyakiti. Namun, jika kini kamu yang lebih dulu berhenti mencintai, izinkan aku untuk pergi dengan permisi. 

Cerita pribadi

Setidaknya…

“Ada banyak alasan kenapa dua orang dipertemukan. Bukan hanya tentang sebuah kebetulan, tak jarang mereka bertemu untuk suatu hal di masa depan. Tapi sebagai insan, kita tak akan pernah bisa tau alasan apa yang tepat sebelum sebuah cerita terangakai matang.” -indonesia, 14:36

Pada masanya, semua yang ditakdirkan pergi akan pergi, dan semua yang masih ditakdirkan tinggal akan tetap disisih. Pasti mereka yang pergi akan meninggalkan luka, terlebih jika mereka teramat berharga. Namun, bukankah merelakan mereka bahagia jauh lebih bijaksana??  Saya tahu, tidak ada yang mau ditinggalkan maupun meninggalakan orang terbaik mereka. Namun, apa boleh dikata. Ketika kalian memang sudah tidak sejalan. Dan dia lebih ingin melihat anda berdiri dan berjalan sendiri tanpanya. Janganlah terlalu dibuat susah. Jangan terus mengekangnya agar tetap tinggal. Jangan pula terus memaksanya merasa nyaman.

Teruntuk kalian yang merasa ditinggal, 

Hiduplah lebih baik lagi. Relakan dia pergi sesukanya. Relakan dia bebas seperti maunya. Bukankah kalian telah sama-sama memberi warna? Meski kini bukan lagi kamu orang terbaiknya, meski kini bukan lagi kamu orang yang selalu ditunggunya, meski kini bukan lagi kamu orang yang ditanyanya “sedang apa?”. Setidaknya minta lah harap kepada Yang Kuasa, agar jalannya dimudahkan, agar jalanmu pula dilapangkan. Dan jika masanya tepat,semoga dapat dipertemukan. Untuk semua waktu yang telah terlalui, maka kenanglah. Bagaimanapun, tangis dan tawanya pernah menjadikan mu utuh. Sosoknya pernah menjadikan mu merasa paling berbahagia. Meski nyatanya, kini dia pergi seperti tak pernah merasa berdosa. Mengurungmu sendiri dalam luka yang tak mungkin kamu bagi. Simpan segalanya, baik buruknya. Semua milik kalian berdua.

Dan,

Teruntuk kalian yang memilih pergi dan meninggalkan,

Semoga tak ada yang salah dari keputusanmu, semoga kamu benar-benar merasa bahagia telah terlepas ikat, semoga “kita” bisa memberimu gambaran bahwa sebelumnya aku juga sempat memberimu bahagia, sebelum kamu sendiri yang memutus untuk berpisah arah. Kamu boleh datang lagi, datang untuk sekedar menyapa dan bertanya kabar. Boleh juga datang lagi untuk mengajakku memulai kisah baru, membangun semua yang telah kamu hancurkan dan tinggalkan. Boleh saja, asal aku belum yakin bahwa ditinggalkanmu mungkin adalah sesuatu yang sudah jalannya. Dan jangan untuk diulang.

Cerita pribadi

Si Ambivert

Hallo…

Kalian pada tau kan apa itu introvert dan ekstrovert??? Yaps, dua istilah kepribadian yang dulunya dikemukakan oleh Carl Jung ini memang udah sering kita denger yaa gais. Klasifikasi tentang kepribadian ini biasanya digunakan orang untuk membedakan mana orang yang suka keramaian dan bergaul dengan orang yang enggan bergaul dan memilih untuk menyendiri. Tapi pernah ga sih kalian ketemu sama orang yang kayak punya dua sifat itu? Kalo pernah, kalian biasanya mengklasifikasikan dia ke “si intovert” apa “si ekstrovert” ??? Kalo kalian bingung untuk menyebut dia apa, berarti kalian harus banget nih kenalan sama “si ambivert”.

“Hah? Ambivert? Dari kata amphibi ya?”

“Hidup didua tempat dong?”

Yuk mulai mengenal ambivert!

Dikutip dari salah satu media elektronik, Mereka mendefinisikan seorang ambivert adalah orang yang memiliki kualitas ekstrovert namun juga mempunyai ciri-ciri si introvert. Seorang yang ambivert tidak ambil pusing tentang pergi ke pesta yang meriah di akhir pekan atau sekedar membaca buku di kamar sendirian. Mereka merasa nyaman dengan keduanya. Nah, kalo gitu apa aja sih ciri-ciri seorang yang ambivert?

1. Merasa nyaman dengan lingkungan yang ramai tapi lebih cenderung mengamati saja dan jarang melalukan interaksi duluan.

  •  Orang yang introvert akan merasa ngga nyaman kalo harus ada dilingkungan yang ramai. Tapi si ambivert mah santai ajaa. 

2. Merasa lelah saat terlalu banyak bersosialisasi dan merasa gerah kalo terlalu lama menyendiri

  • Gimana sih maksudnya? Gini readers, kalo si ambivert itu dia ngga bisa stuck gitu-gitu aja. Gabisa terus-terusan dengerin musik sendirian tanpa sosialiasi sama orang lain. Tapi mereka tuh juga ngga suka kalo harus ngerumpi terus. Mereka butuh space juga. Tergantung moodnya si ambivert pokoknya.

3. Kepribadiannya bisa berubah, tergantung sama siapa si ambivert bicara

  • Kalo si ambivert lagi bicara sama si ektrovert yang suka banget cerita, si ambivert lebih milih buat ngederin. Ngasih waktu sebanyak-banyaknya buat si ekstrovert nyelesain ceritanya. Tapi kalo si ambivert lagi ngomong sama si introvert, dia lebih cenderung ngasikin suasana. Secara to yaa.. anak introvert banyakan diemnya kan hehehe. Serba bisa kan si ambivert ini.

4. Lebih tertarik sama pembicaraan yang mendalam dan spesifik, tapi ya gapapa kalo ditambahin basa-basi dulu.

  • Si ambivert ga males tuh kalo harus ngedengerin anak ekstrovert yang mau cerita tapi pake basa basi dulu, kayak “eh novel yang cocok buat patah hati tuh apasih?” Tapi ya si ambivert biasanya lebih semangat kalo diajak cerita langsung ke intinya. Orang ambivert itu lebih deep conversationalist, hampir sama kayak anak introvert gitu.

Nahh readers, setelah ngebaca ulasan diatas. Kalian masuk klasifikasi apa nih? Si ekstrovert? Si introvert? Atau si ambivert?? 

Setiap sisi kepribadian punya keunikan, keunggulan, dan kelemahan masing-masing. Jadi jangan malu untuk nunjukin kamu yang sebenernya. Keep being your self ya readers !!  

Cerita pribadi

Masih belum diberi judul.

Meskipun suatu saat kamu sengaja untuk menghilang, tidak ada yang berbeda baginya. Semua akan tetap sama. Karena kamu bukan lagi dunianya, bukan lagi akar dalam pohonnya, bukan lagi air dalam gelasnya, dan bukan lagi gula di secangkir tehnya. Ada mu mungkin hanya sebatas hiasan lemon di lemon tea nya, atau bahkan hanya sekedar daun mint di dessert nya. Manusia adalah sosok yang dinamis, dimana dia bisa berpindah hati dengan sedikit gerakan yang berarti. Tidak ada yang perlu diberdebatkan tentang rasa. Seseorang mungkin bisa dengan mudah mempertahankan rasanya, tapi tidak sedikit pula orang yang sangat dinamis dengan rasa. Ketika suatu saat kamu menyimpan rasa yang teramat dalam hingga menyimpulkan bahwa rasa itu akan statis, diam disitu. Maka ketahuilah, seseorang yang sedang kamu kagumi. Yang berkata dia juga menyimpan rasa untukmu, rasanya teramat dinamis. Hanya saja dia tidak pernah bisa mengatakan.