Semua masih saja tampak asing, meskipun dulu kita pernah saling bicara tanpa kenal sakit hati. Beberapa tahun silam, tepat di sini. Di pinggir jalanan yang ramai dengan riuh kendaraan yang tiada henti. Aku kembali mencoba beradaptasi dengan kita kini. 2 tahun membawa perubahan begitu besar dari diri kita, baik aku pribadi maupun kamu. Kita dulu sepakat tak lagi ada rasa yang harus dipertahankan, karena semuanya memang lebih baik berhenti. Tapi bukankah kita juga pernah bersepakat, jangan pernah ada dengki? Karena seburuk apapun kita berpisah, kita pernah sedekat nadi sebelum kini sejauh matahari.

Harus aku akui, sulit menghapus bayangmu yang dulu juga pernah kita sepakati. Sulit menghapus “kita” yang dulu. Dan lagi, aku sulit membuka hati. Meski banyak kabar datang silih berganti, kau sudah lebih dulu memulai dengan lembar kertas baru. 

Hingga kini belum pernah ku temui laki-laki dengan sosok sepertimu dahulu, yang tak pernah tega meliat air mata mengalir dari pelupuk mataku, dan yang tak pernah tega membiarkanku menanti kabar dengan risau.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s