Kamu.

Ada rasa yang awalnya terpikir sudah tiada namun kini tiba-tiba kembali singgah tanpa sapa. Ku perkenalkan padamu, rasa itu bernama “rindu”. Siapa yang sangka bahwa usahaku melupakanmu sejak tiga tahun lalu hancur tak tersisa sejak malam mengantarmu kembali lagi di hadapanku. Dan tiga tahunku pun terasa sia-sia setelah malam itu. 

Kamu kembali datang dengan sederhana. Sama seperti dulu, pergi dengan sederhana. Tanpa permisi, tanpa maaf, dan tanpa tutur kata yang jelas. 
Kamu datang disaat semua pintu sudah kututup namun masih bercelah. Karena pada dasarnya, rasa ku masih sama sejak kamu pergi. Tak ada yang berubah. Hanya mungkin dulu sedikit ku coba oyak agar tidak semakin dalam. 

Tiga tahun sudah semua berjalan tanpamu, kita memilih melanjutkan hidup masing-masing. Kamu dengan jalan ceritamu dan aku, juga dengan jalan ceritaku. Waktu tak pernah mempertemukan kita kala itu. Dan “kita” terasa semakin jauh dan asing. 

Waktu itu, kamu memulai sedikit cerita dengan orang baru, satu langkah di depanku yang belum tau cara melupakan “kita”. Tapi cerita kalian hanya gemerlap sekejap. Lalu redup bersama bayangmu yang semakin sulit ku temui.

Aku pun bertemu dengan banyak orang baru, yang beberapa sempat membuatku takjub. Sempat membuatku dekat. Dan sedikit demi sedikit bayangmu mulai pudar. Tapi tidak dengan rasaku. Rasa yang ku simpan dalam di relung hati tanpa kamu dan orang lain tau. Kamu pun menjadi abu. Hanya ada dalam kenang, tak pernah bisa ku sentuh. 

Dan kini waktu mulai suka bercanda. Menjauhkan “kita” bertahun-tahun lalu dengan sekejap mendekatkan “kita” tanpa tahap. Bagaimana aku harus memulai lagi denganmu? Jika ternyata sejak dulu memang belum ada yang berakhir. Hanya saja kita yang meninggikan ego dan gengsi. Menyerah dengan jarak. Menyerah dengan sosok yang tak selalu bisa kita temui hadirnya. Kamu menyerah dengan aku. Aku pun terpaksa menyerah dengan mu. Dengan “kita”.

Lalu, jika nanti universitas mempertemukan kita dalam satu lingkup. Akankah kita bersepakat melanjutkan cerita? Atau bersepakat untuk mengakhiri dengan cara yang sopan?

Semoga waktu tidak mulai bercanda kembali, agar aku tau untuk apa dulu aku mengenalmu. Agar aku tau, kamu adalah sebuah tempat untuk berlabu atau sebatas tempat untuk singgah.

Teruntuk kamu yang kini menjadi alasanku sulit tidur, 

Aku rindu. Teramat rindu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s