Cerita pribadi

Berdamailah, segera…

Mungkin untuk sebagian besar orang, ditinggalkan adalah sesuatu yang sulit untuk direlakan. Akupun begitu. Aku ada dalam sekelompok itu. Dalam suatu keadaan kita dibuat sulit oleh seseorang yang dulunya pernah jadi yang tercinta dan tersayang namun tiba-tiba menjelma menjadi seseorang yang paling mengacuhkan. Berdamailah…

Kali ini, aku ingin sedikit bercerita. Tentang dia yang selalu ku tuliskan namanya di lembaran kertas warna dalam buku diary. Kita pernah melukis tawa, pernah juga tak sengaja menggores luka. Tapi semua tetap berjalan baik-baik saja, ku rasa. Hingga lembar demi lembar kosong telah terbuang, terisi dengan segala cerita yang pernah kita rasa. Aku begitu mengaguminya. Bahkan hanya dengan senyum tipisnya aku terkadang terbuai oleh rasa. Hari demi hari, bulan demi bulan. Tak ada yang perduli seberapa hebat kita pernah bertengkar, dan seberapa sering kita pernah mengunci diri. Karena pada akhirnya kita tetap kembali. Tetap menjalani hari dengan saling mengisi. Hingga aku lupa diri, bahwa dia pasti menyimpan sejuta untai kata yang hanya manis diawal hari. Tapi kala itu aku benar-benar tak perduli. Bahkan dengan banyak orang yang lalu lalang berusaha menggurui “Jangan pernah menyanyang terlalu dalam. Suatu saat dia pasti pergi” sungguh aku benar-benar tak perduli. Aku pikir, untuk apa takut akan hal yang belum pernah terjadi.

Kini, semua cerita yang dulu selalu aku genggam erat, yang dulu selalu aku peluk tiap malam menyergap. Ia telah runtuh. Pergi berlari dengan bayangmu yang seolah ingin meninggalkan bumi. Karena tidak mau lagi bersua denganku. Mereka yang dulu ku rasa menggurui, ternyata benar di akhir hari. Dan semua untaian manis yang dulu sering dia beri juga telah melebur hilang tak berarti. Kini cuma tertinggal seorang aku, yang nyatanya masih saja sering merindu akan sesosok laki-laki yang dulunya tak pernah mau undur diri. Sesosok laki-laki yang dulunya selalu tampil nomor satu untuk membuat bahagia. Lebih bahagia dari orang lain pernah rasa.

Dan kini, aku menulis dengan segenap rindu dan benci yang hanya bisa aku simpan sendiri. Meski nanti bisa saja aku bertemu kembali denganmu. Aku harap, aku tidak terlalu bodoh untuk membaginya lagi denganmu. Aku ingin berdamai. Berdamai dengan hati dan segala masa lalu kita. Tapi bukan, bukan untuk kembali satu. Bukan untuk kembali merintis mimpi kita satu persatu. Aku hanya ingin pergi tanpa harus punya benci.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s