Cerita pribadi

Mimpi

Percaya atau tidak, aku masih mengingat mimpi-mimpi yang kamu tulis di secarik kertas yang bahkan mungkin kamu sudah lupa untuk mewujudkan.

Dulu, rasamu bagai hujan. Deras.

Tapi aku lupa, bahwa sederas-derasnya hujan ia pasti akan mereda.

Kini kau telah bebas. Tidak ada lagi rantai tak tau diri yang berusaha mengikat. Aku lepaskan kamu. Berjalanlah semaumu. Temui siapa saja yang kamu inginkan. Perihal ku telah ikhlas atau tidak, itu urusanku. Urusanmu adalah lakukan apa saja yang membuatmu jauh lebih bahagia, agar aku tidak kecewa telah mengambil keputusan untuk mengakhiri.

Raihlah segala mimpimu, meski aku bukan salah satunya. Karena aku selalu percaya pada mimpi-mimpimu seperti hal nya aku percaya pada seribu buku yang telah kita baca bersama.

Tak usah ragu untuk menepi jika kamu lelah. Meski kini kita hanyalah sebuah kata yang dipisahkan spasi yang tak saling berinteraksi. Namun aku tetap teman, yang nantinya bisa kapanpun kamu ketuk pintu rumahnya untuk kamu jadikan sandaran. Berceritalah tentang perjalanan hidup yang tak lagi sama seperti bangku sekolah, telingaku akan terus mendengar.

Tak usah ragu untuk menanyakan kabar. Meski kata “kita” tidak bisa lagi diselamatkan seperti kenangan manis yang kian memudar. Aku akan selalu berusaha menjawab kabarku baik-baik saja. Agar hatimu kian tenang tak meradang.

Jika hari ini kamu tanyakan tentang rindu, tidak ada hal lain yang mampu ku perbuat selain mengangguk. Kepingan rinduku telah tersangkut diantara jarak. Tak mampu sampai ditempatmu kini berdiri tegak.

Jika ku paksakan mendekat, pertengkaran kita akan memekat. Maka izinkan aku berteduh sejenak. Agar nantinya jalan kita tak beriringan. Jika dulu kamu memintaku berjalan disebelahmu, anggap saja itu hanya lelucon yang saling kita lemparkan.

Malam ini, mari kita rapikan perasaan. Yang dulunya pernah kita banggakan namun berakhir berantakan. Malam ini juga, aku menulis untuk melupakan, namun tetap mengabadikan kejadian yang nantinya ingin sesekali ku kenang.

Begitu banyak hal yang dulunya kita tulis disecarik kertas yang kini menyatu dengan mimpi-mimpi kita yang tak akan pernah selesai tapi sudah lebih dulu kita tutup rapat. Aku tak mau menyebutkan satu- persatu. Tak mau mengajakmu lebih jauh mendalami sejarah. Cukup biarkan saja mimpi-mimpi kita ada di angan ku. Biarkan saja, agar orang lain tidak pernah tau.

Jika kini tulisanku mengingatkan mu pada hal manis namun juga dramatis. Ciptakanlah sedikit senyum disudut bibirmu. Tak apa. Tidak ada awal yang tak pernah berakhir. Semoga lain kali aku masih diberi kesempatan untuk menulis betapa mengenalmu adalah keberuntungan yang mengiris.

Hingga kisah ini aku publish di blog pribadi, aku masih terlalu melankolis untuk tidak menangis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s