No sweet seventeen no pain.

Kalo denger kata “Sweet Seventeen” kebanyakan dari kita, kaum remaja perempuan pasti selalu berekspektasi dengan segala kebahagian yang mungkin saja bisa terjadi. Tidak terkecuali aku. 

Meski masa sweet seventeenku sudah terlewat pada bulan terakhir tahun lalu, sebagian besar tetap saja membekas pada neuron-neuron otakku. Aku pernah berkhayal, masa itu akan jadi masa yang paling indah yang bisa aku ceritakan pada anak cucu ku nanti. Akan ada banyak balon disana. Akan ada banyak orang yang aku kenal bersuka ria disana. Akan ada beberapa kado spesial disana. Dan akan ada banyak kejutan disana. Tapi semakin mendekati hari H, ada rasa yang terlalu kuat di atas khayalan semu itu. Kenyataan bahwa kamu berulang tahun tepat di saat ujian akhir semester berlangsung. “Jadi berhentilah untuk berkhayal bakal ada sesuatu yang special.” Kataku dalam benak. 

Dan 02 Desember pun tiba. Aku memulai untuk memberi ucapan pada diriku sendiri tepat pukul 00:00 karena kala itu aku masih terjaga untuk persiapan ujian esok hari. Lalu, seseorang mengetuk pintu sambil membawa beberapa lilin kecil yang ia tata sendiri di atas piring kertas. Dia selalu begitu dengan kesederhanaannya yang bisa membuatku tertawa renyah, terimakasih Virda untuk pembuka sweet seventeenku. Hehehe.

Setelah itu satu hari berlalu, dua hari, tiga hari, dan bahkan satu minggu. Semua masih saja normal. Hanya saja, beberapa orang datang untuk memberi selamat, atau terkadang hanya menitip pesan lewat secarik kertas atau lewat layar handphone. Yang ditunggu belum juga tiba. Semua angan belum ada yang terwujud satu pun. Ditambah ada aja persoalan internal yang sedang menghantam kala itu. Impian tersederhana pun seperti melewatinya bersama orang-orang yang sangat aku sayangi juga tidak bisa berjalan. Namun setidaknya ada hadiah yang dikirim walau hanya bisa bertemu dalam hitungan menit. Walau ucapan “selamat ulang tahun” pun hanya bisa ditulis. Tidak diucapkan. Walau hanya bisa memotong kue dan meniup lilin sendiri kala itu. Terimakasih Raisali untuk berbagai cara agar sweet seventeenku tidak terlewat dengan seburuk itu.   

Bisa dikatakan, tidak ada “sweet” seventeen yang terjadi. Semua hanya kian memburuk dibanding ulang tahun sebelumnya. Tapi setidaknya ada hal yang bisa dibuat pelajaran bahwa jangan berekspektasi terlalu tinggi kalau tidak mau terjatuh terlalu dalam.

Advertisements

Kamu ngga punya pasang telinga yg siap dengerin.

Kadang ada beberapa hal yang sulit buat diungkapin. Bukan karena kalimatnya yang susah diapahami atau apapun, ini lebih kepada kamu sulit nemuin orang yang bisa ngertiin apa yang mau kamu omongin. 

Aku pernah ada di satu moment dimana aku ngerasa kalo aku hidup cuma bareng Allah. No one else. Aku ada di titik paling bawah yang pernah aku rasain mungkin, entah kenapa tiap sujud waktu itu aku ngerasa deket banget sama Tuhan semesta alam. Tidak bersekat. Tidak berjarak. Karena benar adanya Allah dengan kita ada sedekat nadi. 

Disaat nggada orang yang bisa dengerin cerita aku, disaat orang-orang pada sibuk dengan kepentingannya masing-masing, disaat mereka tiba-tiba apatis. Allah ada. Allah selalu ada buat dengerin semua cerita kita, janji-Nya akan tetap seperti itu untuk makhluk-Nya yang beriman. 

Biasanya, disaat semuanya normal, disaat aku punya banyak pasang telinga yang siap dengerin aku. Aku pikir, mereka bakal selalu ada di jatuh dan terbangku. Aku lupa bahwa mereka yang selalu aku banggakan di depan banyak orang, dan mereka yang selalu bikin aku bangga. Kadang juga bisa pergi kapan aja tanpa pamit.

Aku adalah orang yang selalu butuh sosok untuk diajak cerita. Seseorang yang ada ketika up and down. Aku butuh banget sosok kayak gitu di bumi. Karena aku ngga bakal siap ngatasin semua masalah sendiri. I’m not superhero who always can handle all the problems. 

Namun, Allah tau yang lebih baik. Dia mengirimkan beberapa malaikatnya untuk menjelma sebagai seorang pendengar terbaik kala aku butuh. Allah lebih tau, kapan waktu yang tepat untuk mereka datang. Bukan setiap hari. Bukan setiap waktu. Tapi mereka datang sebagai bukti cinta-Nya kepada makhluk-Nya, tak kala Makhluknya dirundung pilu yang teramat sangat. Yang mungkin tak lagi kuat ditampungnya sendiri. 

Mamah, ayah, saudara, dan sahabat. Mereka adalah bukti bahwa Allah tidak akan membiarkan makhluk-Nya mengarungi ombak kehidupan seorang diri. Namun mereka juga manusia seperti kita, punya lelah, punya jenuh, dan punya rasa kesal. Berlapanglah untuk kesalahan mereka yang kadang tak bisa menjadi pendengarmu. Karena Allah akan selalu ada. Menjadi yang utama untuk dituju. Ceritakanlah dengan berbisik pada-Nya, ceritakanlah dalam doa yang kita panjatkan.

Sincerly, 

Putri.

Sepucuk Surat Untuk Pemeran Utama

Aku ngga tau kamu bakal sempet baca ini atau engga. Aku nulis ini untuk kamu, dan semua orang yang aku kenal di SMA.

Disini aku cuma mau bilang, kalo tiga tahun ngga pernah bener bener jadi waktu yang lama dan melelahkan. Kalo kamu inget dulu aku pernah bilang “capek” “pengen cepet kuliah” “pengen lulus” “bosen sekolah” itu semua cuma bualan anak sma yang belum tau artinya masa masa indah sekolah. Sekarang, gerbang pintu perpisahan udah di depan mata. Bukan cuma berpisah sama sekolahnya, kurikulumnya, gurunya, pegawainya, kantinnya, bahkan kamar mandinya. Perpisahan ngga sebatas itu aja. Perpisahan berarti udah harus siap dengan semua hal yang mungkin bakal terjadi setelah ini. Ngga bisa lagi jahilin temen-temen, ngga bisa lagi ndesel-ndesel kamu, ngga bisa lagi alesan ke kamar mandi cuma gara gara males sama pelajaran dan gurunya, ngga bisa lagi jalan di tengah tengah adek kelas dan berasa yang punya sekolah, gabisa lagi minta gratisan ke cafetaria, gabisa lagi minta uang ke kamu kalo lagi laper dan lupa bawa uang, gabisa lagi duduk duduk sok imut sok gengster di depan kelas, gabisa lagi belajar bareng, gabisa lagi minta kamu beliin ini itu, gabisa lagi kirim surat buat nyuruh nyuruh kamu lakuin hal konyol, aneh, atau bahkan cuma sekedar nulis surat yang isinya “salam” yang aslinya ga penting. Tapi aku pengen. 

Di sini, di masa terakhir aku menempuh pendidikan yang bernamakan “sekolah” aku diajarkan banyak hal dan juga dipertemukan dengan banyak orang baru. Yang awalnya hanya seorang stranger kini berubah menjadi seorang partner. Yang dulunya bener bener asing sama wajah satu sama lain, kini dah mulai mikir “bosen juga ya idup gue. Dari bangun tidur sampe tidur lagi ketemunya cuma sama mereka mulu” tapi semuanya bener bener berarti banget. Kalian dan semua baik buruk kalian. Kamu dan semua baik buruk kamu. Terimakasih kalian semua  yang udah menghadirkan tawa yang ngga hanya ringan dan renyah, tapi kadang juga garing. Terimakasih untuk 3 tahun yang berlika liku layaknya drama RCTI. Terimakasih untuk semua jajan, semangat, penyakit, dan  virus yang udah saling disebarin satu sama lain.

Perguruan Tinggi disana sudah siap menjadi lebih baik bareng kita, dan orang tua kita di rumah sudah siap pula menjadi orang yang paling bangga saat kita bisa masuk universitas yang dari dulu kita impikan. Jangan patah semangat, jangan mau kalah sama banyak anak SMA di luar sana. “Kita percaya bahwa Allah itu ada, maka kita juga harus percaya bahwa kuasa-Nya ada di atas segala-galanya”. 

Untuk kalian para pemeran utama dalam drama queen aku ; raisali istiqobudi, galuh fadwa ammi putri, nabilla syifa, nafila rihadatul aisa, nor muflihatur rofiah, malida zulfania zahrariski, nailatul husna, ummi zakia salma, linta ainil ulya, zeta taladzul a’yun, karenza balqist, virda inzatur rohmah, mutiara nur afifah, selfia dewi fatimah, yulinda ulfah, anfa adnia fatma, jihan athaya salsabila, ahmad raihan riadhy, muhammad reyhan jawadi, alin baha’i, kautsar muafa, muhammad anas alqoyyum, yunus taufiqur rahman, muhammad mawahibul fadli, arya havilah heider achsan, muhammad rabbit mizyal laudany, dan masih banyak lagi yang gabisa disebutin karena tangannya capek. Kita mungkin gabisa lagi buat film kayak yang udah kita lakuin 3 tahun ini, kita mungkin juga gabisa lagi bikin alur yang sama dengan orang baru. Jadi, kenang ini sedalam dalamnya. Simpan cerita kita serapi rapinya. Karena nantinya, keluarga kecil kita masing masing  harus tau kalo kita pernah berjuang, berlarian, males malesan, ngebully orang, bikin nangis terharu/muak anak orang, bikin bapak ibu sebel dan bangga, bikin orang tua di rumah deg degan, bikin pak bk dan waka kesiswaan sebel sama kita, bikin onar kelas/boarding bareng bareng. Pokoknya kita pernah cantik, ganteng, oon, pinter, rapi, jorok bareng bareng.

Terimakasih MAN 2 KUDUS,

Terimakasih SUPERNOVA’17

Terimakasih BSDA’7

Terimakasih Telex

Terimakasih VecTor

Terimakasih Telescope

Terimakasih partner, kalian, dan semua pemain utama dan sampingan yang sangat saya banggakan. 

Apa yang biasanya ayah dan anak gadisnya bicarakan

Ada hal yang selalu aku ingat tentang bagaimana cara ayah memberikan pandangannya terhadap sesuatu. Ayah adalah seorang laki-laki pertama yang memberikanku gagasan bahwa manusia diciptakan tidak ada yang sama. Baik dalam segi pola pikir, sifat, maupun cerita hidupnya. Jika ada yang tanya, “dimana tempat berlabuh terbaik untuk mengeluhkan segala benak pikiran?” Mungkin aku akan menjawab “ayah.” Dan jika ada yang bertanya “siapa pemberi nasehat terbijak?” Mungkin aku juga akan menjawab “ayah.” Ayah adalah laki-laki pertama yang memberi tau ku bahwa laki-laki sejatinya diciptakan untuk menenangkan, bukan memperkeruh. Bahwa juga sejatinya laki-laki diciptakan untuk memberi keputusan yang tepat bukan menggantungkan sesuatu. 

Untuk sedikit cerita tentang ayah di atas, aku tidak menyangkal jika banyak orang yang berkata bahwa “father is daughter’s first love”. Karena aku juga mengalaminya. Karena beliau lah laki-laki pertama yang bisa membuatku rindu. Membuatku terngiang akan segala hal yang telah menjadi memori bersamanya. 

Teruntuk ayah, dan seluruh cintanya.

Terimakasih atas segala bentuk kata yang menguatkan, terimakasih atas seluruh waktu yang telah diluangkan, terimakasih atas semua tenaga yang telah dikeluarkan dan terimakasih atas sebuah rasa yang tak pernah terbatas. 

Maaf belum bisa membahagiakan ayah seutuhnya, maaf belum bisa mengajak ayah ke atas podium penghargaan, maaf belum pernah bisa menjadi juara kelas, maaf belum menjadi sholehah seperti apa yang Ayah damba, maaf untuk waktu yang jarang ada untuk mendengarkan cerita ayah, maaf belum bisa selalu memcium tangan dan kedua pipi ayah ketika berangkat kerja, maaf belum bisa selalu membuatkan secangkir teh hangat kala ayah pulang dari beraktivitas, dan maaf untuk semua keinginan ayah yang hingga kini belum kakak wujudkan.

Ayah, kakak rindu. Kepada siapa akan mengutarakan segala gundah di kepala selain ayah? Banyak yang sedang kakak pikirkan. Banyak yang ingin kakak ungkapkan. Hidup jauh itu berat. 

Sehat-sehat di rumah yah, jaga diri ayah dan mamah disana. 

Dari anak gadismu yang beranjak dewasa

Nothing like us

Pernah ngga sih, ngerasain kalo “gaada yang kayak kita” ?? (Nothing like us). I mean, ya gaada yang sedeket aku kamu. Gaada yang bisa gantiin posisi kamu buat jadi partner asik buat ngapain aja. Bener-bener kita ngelakuin hal yang orang lain pikir itu biasa aja tapi bisa jadi hal yang sangat menarik buat kita. Kita kayak punya dunianya kita sendiri. Ngga pernah perduli tentang apa yang orang omongin di belakang, kita asik aja. Senyamannya kita. Sejalannya kita. Dan itu bener-bener bikin aku tau kalau aku ada bukan sendiri disini. Bukan cuma seoonggok daging yang diberi nama yang cuma dititipin sendirian disini. I have you.

Dulu, kita kayak yang jarang banget inget waktu. Kita bebas ngapa-ngapain aja. Tiap hari kita ketemu. Tiap hari kita ngomong. Tiap hari kita ketawa. Tiap hari kita berantem. Tiap hari kita gibah bareng. Tiap hari kita beli jajan. Tiap hari kita curhat. Tiap hari kita belajar. Tiap hari kita barengan. No spaces. Sampai ada banget yang bilang kalo “kemana kemana kok bareng”. Kita enjoy ngelakuin apa aja bareng. Sampai disuatu titik, jarak bikin kita berubah. 

Jarak bikin ingatanmu tentang kita sedikit terkikis. Jarak bikin kita renggang. Jarak bikin aku bukan lagi orang yang selalu kamu cari buat mecahin suasana hening yang ada. Jarak bikin semua ke-asikan kita sedikit memudar. Jarak juga bikin aku terhempas. Jarak menenggelamkan hampir semua tawaku yang dulu dengan mudahnya hadir. Jarak juga sering menghantui ku dengan pikiran-pikiran yang kacau. 

Aku rindu kita yang tanpa jarak. 

Baca aja ya. Kali aja kepo

Untuk kamu yang akan bertemu denganku kelak,
Aku adalah gadis sanguinis yang tak jarang juga melankolis, aku ceria namun juga kadang sering merasa sepi. Aku bisa saja bersifat ekstrovert. Tapi di suatu waktu aku juga bisa menjadi introvert. Sangat introvert. Tertutup dengan siapapun. Tentang apapun. 

Sepanjang hari aku bisa tertawa lepas tanpa beban, tapi aku pernah murung dan menangis dalam jangka waktu yang lama. Aku rapuh dengan kata-kata. Aku tunduk dengan semua bentakan. Dalam arti lain. Aku tak bisa dibentak. Aku tak bisa diajak berdiskusi dengan nada tinggi. Apalagi seseorang yang bernada tinggi itu ialah salah satu orang yang paling aku sayang. Aku tidak bisa. Dan mungkin tak akan pernah bisa. Jadi aku mohon, jangan sering bicara dengan nada tinggi ke arahku. Karena aku akan menangis terisak jika itu terjadi. 

Aku dikenal sahabat dan para teman dekatku sebagai gadis yang manja dan banyak sekali pintanya. Tapi aku tak segan-segan memberi semua perhatian untuk orang yang aku sayang. Begitupun untuk kamu kelak. Aku akan rela membuatkanmu apapun yang kamu suka agar kamu bisa tersenyum disepanjang hari. Aku akan berusaha sebisa mungkin agar selalu menjaga mood mu setiap waktu. Dan jika saja moodmu sedang turun dan kacau, aku tak akan pernah diam saja. Aku akan membuatmu kembali tertawa meski aku harus melakukan hal bodoh sekalipun. Karena tawa orang-orang yang aku sayang adalah bagian dari kebahagianku yang tak pernah bisa aku dapatkan dari orang lain.

Namun, jika suatu hari nanti aku banyak sekali manyun, jutek, marah dan apapun. Aku tak pernah mau sendiri. Karena aku bukan orang yang gampang menaikkan moodku sendiri, aku butuh ditemani orang-orang yang aku sayang. Aku selalu berharap mereka membantuku lepas dari keadaan kacauku. Begitupun kamu kelak. Jangan pernah meninggalkan aku selagi aku sedang dalam keadaan unmood. Aku benci itu. 

Dan jika suatu hari nanti aku berkata “aku mau itu..” dengan menunjuk ke suatu arah. Itu adalah bentuk ungkapanku bahwa aku tak lagi merasa canggung denganmu. Bahwa kita sudah tak lagi ada sekat. Seperti aku dengan sahabat-sahabatku. Seperti itu pula aku denganmu nanti. Bahkan bisa lebih. Biasanya aku mengeluarkan kata-kata itu dengan selingan ekspresi manja. Aku gatau. Itu muncul begitu saja. 

Dan lagi, aku adalah pengoleksi barang-barang dari orang yang aku sayang meski hanya sekedar bungkus permen sekalipun. Karena bagiku, barang adalah hal paling ampuh untuk mengingatkanku pada suatu kenangan di masa lalu. Jadi jangan heran, jika nanti ada tempat khusus untuk menaruh semua barang darimu. Entah itu bagimu penting atau tidak, tapi semua akan menjadi penting bagiku.

Sesuatu yang identik lagi denganku adalah, aku senang bercerita. Menceritakan semua kejadian yang aku ingin bagi dengan orang yang aku sayang. Seperti aku membaginya dengan sahabatku. Mereka adalah pendengar terbaik yang pernah aku miliki. Jadi untuk kamu, aku pesan sisihkan sedikit waktumu untuk sekedar mendengarkan ceritaku. Karena didengar adalah sesuatu yang paling aku segani. Setelah ceritaku selesai. Aku akan dengan senang hati mendengarkan semua ceritamu. Atau kita tukarkan posisi. Kamu dulu yang cerita. Setelah itu baru aku. 

Kita sambung lagi dilain waktu ya…

Akan aku ceritakan lagi siapa aku 🙂

Semua masih saja tampak asing, meskipun dulu kita pernah saling bicara tanpa kenal sakit hati. Beberapa tahun silam, tepat di sini. Di pinggir jalanan yang ramai dengan riuh kendaraan yang tiada henti. Aku kembali mencoba beradaptasi dengan kita kini. 2 tahun membawa perubahan begitu besar dari diri kita, baik aku pribadi maupun kamu. Kita dulu sepakat tak lagi ada rasa yang harus dipertahankan, karena semuanya memang lebih baik berhenti. Tapi bukankah kita juga pernah bersepakat, jangan pernah ada dengki? Karena seburuk apapun kita berpisah, kita pernah sedekat nadi sebelum kini sejauh matahari.

Harus aku akui, sulit menghapus bayangmu yang dulu juga pernah kita sepakati. Sulit menghapus “kita” yang dulu. Dan lagi, aku sulit membuka hati. Meski banyak kabar datang silih berganti, kau sudah lebih dulu memulai dengan lembar kertas baru. 

Hingga kini belum pernah ku temui laki-laki dengan sosok sepertimu dahulu, yang tak pernah tega meliat air mata mengalir dari pelupuk mataku, dan yang tak pernah tega membiarkanku menanti kabar dengan risau.